Hakikat Berbicara (Materi 5)
HAKIKAT BERBICARA
(A. Konsep Dasar
Berbicara)
1. Pengertian Berbicara
Secara
Umum, berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran.
Sedangkan menurut Suhendar, bericara adalah proses perubahan wujud
pikiran/perasaan menjadi wujud ujaran.
2. Batasan-Batasan
Berbicara
Batasan ini sesuai
berdasarkan beberapa teori yang dikemukakan para pakar komunikasi yakni sebagai
berikut :
a.
Berbicara Merupakan Ekspresi Diri
Kepribadian
seseorang dapat dilihat pembicaraannya. Ketika seseorang berbicara pada saat
itu dia sedang mengekspresikan dirinya. Dari bahasa yang digunakan pembicara,
dapat diketahui kondisi mentalnya. Kemaharahan, kesedihan, kebahagiaan, bahkan
ketidakjujuran seseorang tidak dapat disembunyikan selama dia masih berbicara.
b.
Berbicara Merupakan Kemampuan Mental Motorik
Berbicara
tidak hanya melibatkan kerja sama alat-alat ucap secara harmonis untuk
menghasilkan bunyi bahasa tetapi, berbicara juga melibatkan aspek mental. Dalam
hal ini, diperlukan keseimbangan anatara tumpukan-tumpukan gagasan yang ada
dalam pikiran dengan kemampuan menentukan kata yang tepat.
c.
Berbicara Merupakan Proses Simbolik
Kata
yang menjadi dasar dari sebuah ujaran merupakan simbol bunyi. Sebagai simbol,
pemaknaan sebuah kata merupakan kesepakatan antar pemakai bahasa. Antara kata
dengan sesuatu yang dirujuknya tidak mempunyai kaitan yang mengikat. Artinya,
penamaan sesuatu dengan sebuah kata merupakan kesepakatan.
d.
Berbicara Terjadi dalam Konteks Ruang dan Waktu
Berbicara
harus memperhatikan ruang dan waktu. Tempat dan waktu terjadinya pembicaraan
mempunyai efek makna pembicaraan. Muljana memberikan contoh, betapa tempat
pembicaraan dapat menentukan efek makna. Topik-topik yang lazim dipercakapan di
rumah, tempat kerja, atau tempat hiburan akan terasa kurang sopan bila
dikemukakan di masjid (2001). Orang yang mendengar percakapan tersebut akan
mempersesian kurang baik terhadap orang yang terlibat dalam percakapan
tersebut.
e.
Berbicara Merupakan Keterampilan Berbahasa yang Produktif
Produktivitas
dalam hal ini diartikan sebagai keterampilan berbahasa yang paling banyak
digunakan untuk berkomunikasi, seiring dengan kemampuan berbahasa lainnya,yaitu
menyimak. Kedua kemampuan ini tidak dapat dipisahkan karena kedua keterampilan
tersebut mempunyai hubungan resiprokal.
2. Prinsip Umum
berbicara menurut Tarigan (1983) yaitu :
a.
Membutuhkan paling sedikit dua orang
Berbicara
sebagai bentuk komunikasi tentu memerlukan pihak yang berperan sebagai
komunikator dan pihak lainnya sebagai komunikan. Adanya dua pihak ini merupakan
faktor penting terjaminnya keberlangsungan komunikasi.
b.
Mempergunakan studi linguistik yang dipahami bersama
Antara
pembicara dan pendengar harus mempunyai kesepakatan dalam memahami lambang
bunyi bahasa yang digunakan sebagai simbol untuk mewujudkan gagasan-gagasan
menjadi suatu tujuan.
c.
Merupakan suatu pertukaran peran antara pembicara dan pendengar
Ketika
pembicara menyampaikan gagasan, pendengar berpean sebagai penyimak. Ketika pesan
tersebut direspons oleh pendengar maka telah terjadi pergantian peran.
d.
Berhubungan dengan masa kini
Wacana
pembicaraan hanya berlaku untuk masa kini. Hal ini terjadi sebelum ditemukan
pita kaset yang sanggup mendokumentasikan wacana lisan manusia.
4. Tujuan Berbicara
Tujuan
utama berbicara adalah untuk menginformasikan gagasan-gagasan pembicara kepada
pendengar. Dalam hal ini, Muljana mengelompokan tujuan berbicara ke dalam empat
tujuan yakni :
a.
Tujuan sosial
Manusia
sebagai makhluk sosial menjadikan kegiatan berbicara sebagai sarana untuk membangun
konsep diri, eksistensi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan , dan
menghindari tekanan serta ketegangan.
b.
Tujuan ekspresif
Bahasa
dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan pembicara kepada orang lain.
Ekspresi dalam bentuk bahasa juga dapat berwujud sebagai rasa empati kepada
objek yang ada di luar diri pembicara.
c.
Tujuan ritual
Kegiatan
ritual sering menggukan bahasa sebagai media untuk menyampaikan pesan ritual
kepada penganutnya. Dalam perayaan hari besar keagamaan tertentu, banyak simbol
keagamaan yang bersifat sakral dituangkan melalui bahasa.
d.
Tujuan instrumental
Dalam
tujuan instrumen ini, kegiatan berbicra digunakan sebagai alat untuk memperoleh
sesuatu. Sesuatu disini dapat berupa pekerjaan, jabatan, atau hal-hal lainnya.
5. Jenis Berbicara
a.
Berdasarkan situasi :
·
Berbicara formal yaitu kegiatan berbcara
yang terikat pada aturan-aturan.
·
Berbicara nonformal yaitu kegiatan
berbicara yang tidak terlalu terikat pada aturan-atira.
b.
Berdasarkan keterlibatan pelakunya :
·
Berbicara individual yaitu kegiatan
berbicara yang dilakukan oleh seorang pelaku pembicara, misalnya pidato
·
Berdasarkan kelompok yaitu kegiatan
berbicara yang melibatkan yang melibatkan banyak pelaku pembicara, misalnya
diskusi dan debat.
c.
Berdasarkan alur pembicaraannya :
·
Berbicara monologis yaitu kegiatan
berbicara yang dilakukan searah.
·
Berbicara dialogis yaitu kegiatan
berbicara yang dilakukan secara dua arah.
6. Peranan Berbicara
dalam Keseharian
Dikelompokkan
menjadi dua jenis yaitu berbicara formal dan nonformal. Berbicara formal adalah
kegiatan berbicara yang terikat secara ketat oleh aturan-aturan, baik aturan
yang berkaitan dengan kebahasaan maupun nonkebahasaan. Sedangkan berbicata
nonformal adalah kegiatan berbicara yang tidak begitu terikat dengan aturan.
7. Kaitan Berbicara
Dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya
A.
Hubungan berbicara dengan menyimak
·
Seorang anak belajar berbicara dimulai
dengan menyimak
·
Terjadinya pergantian peran antara
penyimak dan pembicara
·
Kemampuan berbicara dijadikan tolok ukur
kemampuan menyimak
·
Berbicara dapat dijadikan bentuk
reproduksi dari proses menyimak
B.
Hubungan berbicara dengan membaca
·
Berbicara dapat dijadikan bentuk
reproduksi dari proses membaca
·
Pada orang dewasa peningkatan kemampuan
berbicara dapat dilakukan melalui proses membaca
·
Membaca dapat menjadi sarana efektif
dalam memamndu kegiatan berbicara
C.
Hubungan berbicara dengan menulis
·
Kemampuan berbicara dapat dijadikan
sarana pendukung bagi kemampuan berbicara
·
Menulis sangat diperlukan dalam kegiatan
berbicara dialog
(B.
Berbicara sebagai proses)
1.
Pengertian berbicara sebagai proses
Ialah
kegiatan berbicara yang dimulai dengan proses simbolisasi pesan dalam diri
pembicara untuk disampaikan kepada pendengar melalui sebuah media.
2. Tahap-Tahap dalam berbicara
a.
Persiapan
·
Penentuan topik, merupakan hal yang
pertama kali dilakukan sebelum kegiatan berbicara berlangsung.
·
Penentuan tujuan, sebelum berbicara
dilakukan harus diperjelas dulu tujuannya.
·
Pengumpulan referensi, banyak sumber
informasi yang dapat dijadikan referensi atau pendukung kegiatan berbicara.
·
Penyusun kerangka, dalam hal iini
berbicara berfungsi untuk membimbing arah pembicaraan.
·
Berlatih, merupakan tahapan terkahir
dalam persiapan.
b.
Pelaksanaan kegiatan berbicara
·
Pembuka, berisitentang pengantar sebelum
masuk pembahasan pokok.
·
Pembahasan pokok, bagian ini merupakan
intik dari pembicaraan.
·
penutup, merupakan akhir dari seluruh
kegiatan berbicara.
c.
Evaluasi
Adakalanya evaluasi perlu dilakukan untuk
mendapat masukan tentang kegiatan berbicara yang telah dilakukan seorang
pembicara. Dengan masukan tersebut seorang pembicara dapat menentukan kualitas
pembicaraannya.
Komentar
Posting Komentar